WELCOME to The NEW MOMENT

'Sesungguhnya, Aku ciptakan langit dan bumi ini, wahai manusia, buat kamu berfikir, untuk menelaah bagaimana kamu menjalani hidup ini' (AlQur'an AlKarim)

Minggu, 05 September 2010

about: makan-makan...

Assalamu’alaikum temen-temenQ yg moga selalu dalam lindungan Allah…
Kaifa khaluk? Dah makan lum?
Pastinya udah kan? Entah itu barusan, kemarin atau tahun lalu (^_^’)
Tahu ga sich lo Allah juga jaga kita lewat makanan yg kita makan? Allah kasih rambu-rambu, makanan pa ja g boleh kita makan?
Dalam QS. Al-Maa’idah ayat 3, Allah berfirman:

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Jangan berfikir lo Allah ga sayang ma kita trus Allah membatasi makanan yg boleh kita makan, enggak…
Malah sebaliknya, Allah itu sayang banget ma kita…
Tahu ga sich lo darah itu berbahaya bagi keshatan tubuh kita? Lo daging babi itu da penyakitnya yg susah diilangin? Lo bangkai itu ga sehat buat tubuh? N banyak lagi mudharatnya lo kita makan makanan yg g boleh kita makan?
Wah… kita bakalan bersyukur banget jadi orang Islam, coz Islam is the True Religion, the Perfect Religion…
Sampai-sampai makanan kita di urus juga, supaya umat Islam ni sehat semua…
Subhanallah…
Sadar ga sich, lo Allah sayang banget ma kita?
So, gada critanya lo kita malas-malas sholat, ga mau ikut kajian, ga tilawah…
Ayo… Fastabihul Khairot…

renungan malam

Sadar ga sich, lo kita sering buat kesalahan? Sering bermaksiat? Bahkan meninggalkan perintah Allah?
Padahal kita sudah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Rosul utusan Allah.
Nah, tuh kan, kemnapa kita masih sempatnya nglanggar larangan Allah segala?
Ngakunya beriman? Kok malah nglanggar perintah Allah tyuz…
Katanya mo jadi pemuda yang tertaut hatinya pada masjid? Kok demen dugem, berjam-jam internetan…
Bilangnya mo jihad? Kok malah ikhtilat, khalwat, bermaksiat…
Hayo…
Hati-hati, jangan sampai hati kita ragu pada keimanan kita terhadap Allah lo…
Coz, lo Allah dah berkehendak menyesatkan kita, maka kita tidak akan mendapatkan petunjuk, dan tidak pula mampu mmberi petunjuk pada orang lain yan telah dikehendaki sesat oleh Allah.
Allah berfirman dalam QS.An-Nisaa’: 143

“Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barangsiapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.”
So, jangan sampai kita menjadi golongan orang-orang yang disesatkan ma Allah. Berdo’alah selalu agar kita dikasih petunjuk n dibimbing ke jalan yang lurus. Aamiin…
Lo kamu-kamu ngaku beriman ma Allah, jalankan semua perintah-Nya n jauhi semua larangan-Nya yach…

Tahukah kalian, siapa teman terbaik?

Allah berfirman:

“ Dan barangsiapa yang menaati Allah dan rosul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para siddiqin, orang-orang yang mati syahi, dan orang-orang yang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”(QS. An-Nisa’:69).
Dah jelaskan, siapa teman yang terbaik?
Ayo berlomba-lomba menjadi bagian dari mereka…
Fastabihul khairat akhy… ukhty…

Sekilas tentang buku “Andai Kau Tahu Betapa Aku Mencintaimu” karangan Muna Shalah

Bismillahirrahmanirrahim…
Allah telah menganugerahkan cint a dan kasih sayang kepada setiap manusia untuk melakukan ketundukkan dan kepatuhan pada-Nya, untuk meraih cinta dan ridho-Nya. Dan manusia yang mendapatkan cinta, patutlah ia bersyukur dan memanfaatkan cinta dan menyalurkannya untuk tujuan mulia, demi Allah dan k arena Allah.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Anfaal ayat 63

“Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bui, niscaya kamu tidak dapat menpersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka”
Saudaraku, betapa kenikmatan cinta dan persaudaraan itu sangat berharga, mampu mangikat cinta orang-orang yang saling mencintai karena Allah meski berbeda jaman dan jarak yang berjauhan.
Diriwayatkan bahwa ada sekelompok pasukan muslim yang terkepung antara musuh dan sungai, kemudian sang panglima memerintahkan pasukannya untuk menyeberangi sungai. Tatkala pasukan muslim menyeberangi sungai, sebuah tempat air milik salah seorang pasukan terlepas dari pegangannya, kemudian orang itu berteriak” tempat airku, tempat airku”.seketika orang yang ada sebelahnya berteriak “tempat airku”, hingga semua anggota pasukan meneriakkan kata yang sama. “Tempat airku, tempat airku”. Setelah itu mereka menyelam untuk mencari tempat air saudara mereka sampai ketemu. Apa yang mereka lakukan ini disaksikan oleh para musuh, sehingga Allah membuat hati mereka gentar karena rasa persaudaran kaum muslim yang kuat. Pasukan musuh berkata”Jika mereka rela melakukan hal seperti itu hanya karena sebuah tempat air milik salah seorang dari mereka yang terjatuh, maka apalagi jika kita membunuh salah seorang dari mereka.” Itulah yang menyebabkan pasukan kaum muslim memperoleh kemenangan.
Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa lemahnya persaudaraan (ukhuwah) adalah faktor utama yang menghambat kaum muslim untuk meraih kemenangan.
Kita tidak memungkiri ketulusan perasaan kita pada saudara-saudara kita yang ada di negeri Palestina, Irak, dan Sudan. Akan tetapi, apakah yang kita rasakan sebanding dengan dengan perasaan para sahabat yang rela mendahulukan membantu saudaranya daripada menyelesaikan urusannya sendiri?
Sadarilah, bahwa saudaramu peka terhadap dirimu, kesedihanmu, kegundahan dan kesulitanmu. Lantas mereka meringankan bebanmu, membantumu, dan menenangkanmu.
Rasa persaudaraan merupakan sebuah kenilmatan yang harus disyukuri, sadarilah betapa berharganya arti sebuah persaudaraan. Berhati-hatilah agar rasa persaudaraan tidak tertinggal dari dirimu. Janganlah engkau menyakiti saudaramu, dan mulailah dari dirimu sendiri.
Bisyr Al-Hafi berkata:”Jika ketaatan seorang hamba kepada Allah berkurang, maka Allah akan merampas rasa cinta dari orang-orang yang mencintainya. Rasa persaudaraan itu dpat menghibur saat sedang sedih dan dapat menolong seseorang dalam urusan agama.”
Saudaraku, betapa senyuman dan perasaan cintamu mampu mereda rasa sakit dan beban berat melaksanakan segudang amanah. Meski demikian, manusia tak luput dari khilaf dan dosa, janganlah kau sakiti hati saudaramu ketika kau marah, berkatalah yang baik saat kau marah. Jika saudaramu meminta ma’af, maafkanlah. Berdamailah saat kau berselisih dengan saudaramu. Doa’akanlah saudaramu disela-sela munajatmu pada Allah dalam kekhusyu’an sujudmu.
Imam Hasan Al-Bana berkata: “Kekuatan yang paling utama adalah persatuan, sedangkan persatuan tidak akan terwujud tanpa adanya rasa cinta.”

Dan Allah, Tuhan Yang Maha Berkehendak

Assalamua’alaikum…
Alhamdulillah, patutlah kita bersyukur pada Allah, Tuhan semesta alam, yang memiliki kesempurnaan, yang menciptakan segala apa yang ada di langit dan di bumi. Yang menjadikan kita sebagai bagaian dari sejarah peradaban Islam, aamiin.
Ada sebuah cerita dari seorang ikhwah, yang berusaha untuk tetap di jalan Allah, menegakkan syariat Islam, mengarungi perjuangan dakwah, juga mengemban amanah dakwah. Ketika suatu saat ia harus menjalankan amanah, ia mengeluh, karena bukan amanah itu yang ia inginkan, ia mengnginkan amanah lain, bukan itu yang ia inginkan, tapi hal lain yang menurutnya lebih ia minati.
Ikhwatifillah…
Tahukah antum sekalian, kita tidak boleh meminta pilih-pilih amanah, apalagi meminta amanah, kecuali jika keadaannya memaksa dan mengharuskan kita untuk memilih.
Amanah adalah tanggung jawab terhadap segala sesuatu yang kita lakukan, yang kita emban, bahkan yang kita ucapkan. Seberapapun beratnya amanah itu, sudah menjadi kewajiban kita untuk menanggungnya. Terlebih amanah dakwah, yang menjadi warisan Rasuullah bagi kaum muslim. Ingatlah kita punya kewajiban untuk mengajak pada kebajikan, beramar ma’ruf dan nahi munkar. Ingatlah bahwa Rasulullah berdakwah hingga akhir hayat beliau untuk tegaknya Islam, agama Allah dengan ridho Allah. Sehingga saat ini, kita bisa merasakan kenikmatan iman dan Islam yang dulu telah beliau dan para sahabatnya perjuangkan. Bayangkan bagaimana perjuangangan Rosulullah dan para sahabat dalam memperjuangkan agama ini, apakah kita akan membiarkan perjuangan itu berhenti begitu saja? Akankah kita berlepas diri dari dakwah karena ketidaksukaan kita atau karena keengganan kita? Relakah kalian hidup tanpa dakwah?

Ikhwatifillah…
Ketika kita mendapatkan amanah yang mungkin tidak kita inginkan, yakinlah bahwa itu adalah yang terbaik untukmu. Berfikirlah bahwa kau diberi kesempatan untuk belajar, belajar untuk melaksanakan amanah yang awalnya tidak kau inginkan, belajar untuk mampu menerima apa-apa yang diberikan Allah padamu . Berfikirlah bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik untukmu, karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Kau boleh menggores mimpi-mimpi di setiap langkah hidup, menuliskan tujuan dalam tembok angan, bahkan memperjuangkan semua impian. Tapi, satu hal yang harus kamu ingat, Allah yang memiliki penghapusnya, Allah yang Maha berkehendak atas setiap diri manusia, dan Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Dakwah dalam Bingkai Persaudaraan

Dakwah adalah suatu keniscayaan, yang mana setiap kita adalah agent dakwah, manusia beramar ma’ruf nahi munkar. Pengetahuan dan metode adalah modal yang cukup mendasar dalam berdakwah, mencakup strategi untuk melanjutkan perjuangan Rasulullah. Manakala metode itu berbeda, maka begitupun kejituan strategi yang digunakan menentukan hasil yang akan diperoleh dalam dakwah. Seringkali kita, aktifis dakwah kampus (ADK), disibukkan dengan perbedaan-perbedaan yang kurang mendasar dan tidak menyimpang dari koridor Islam. Hal ini menyebabkan sebagian ADK kurang fokus pada targetan dan tujuan dakwah kampus itu sendiri. Sehingga lembaga-lembaga yang bergerak dalam dakwah dikampus tampak kurang rasa persaudaraannya dan kesamaan tujuan, yaitu untuk menegakkan kalimah Allah dalam meraih ridhoNYa.
Perbedaan metode atau langkah yang diambil sesungguhnya bukan suatu bencana yang besar, yang akan mematikan langkah-langkah dakwah kampus. Tapi itu merupakan keragaman cara dan teknis yang menuntut kedewasaan kita dalam menyikapinya dengan arif bijaksana. Sehingga dakwah tetap berlangsung, karena sesungguhnya dakwah adalah menanaman nilai-nilai Islam menuju kejayaan yang rahmatan lil ‘alamin.
Pun ketika kita dihadapkan pada kekuasaan, yang sesungguhnya bukan suatu yang harus kita dapatkan, dan mendudukinya disana. Akan tetapi, kekuasaan adalah salah satu cara agar dakwah lebih giat n leluasa dalam geraknya menebar kebaikan dan kebenaran Islam. Maka kekuasaan juga diperlukan, pun harus didapatkan dengan cara yang haq. Tujuan kita adalah mulia, demikian pula cara yang kita tempuh haruslah sejalan dengan tujuan kita.
Kekuasaan sangat rentan diperbincangkan dalam persepsi dakwah kampus. Ketika kita belum berkesempatan diamanahi dalam suatu lembaga kampus, maka sesungguhnya dakwah terus berjalan meski tanpa kedudukan. Karena pengemban dakwah adalah jabatan yang mulia disisi Allah. Cukuplah Allah sebagai sandaran ketika kita sendiri atau bersama-sama. Rencana Allah adalah rencana terbaik, dan kita harus meminta kepada Allah agar cita-cita mulia kita tercapai.
Ingatlah kawan, mereka bukan musuh kita. Mereka bukan rival kita. Mereka adalah saudara kita, hanya karena cara dan wadah yang berbeda jangan sampai menyulut perselisihan. Maka berbaiklah dan berfasthabihul khairatlah dengan mereka. Karena mereka juga menginginkan syari’at Islam ada dalam setiap nafas manusia. Maka , kembalilah pada asholah dakwah.

Jumat, 06 Agustus 2010

Renungan Pagi dalam Hangatnya Mentari

“Orang Mukmin bagi Mukmin lain bagaikan satu bangunan yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Seperti itulah perumpamaan umat Islam, saling menguatkan, saling mengasihi dan saling berbagi. Begitupun kita sebagai penuntut ilmu. Sudah menjadi kewajiban untuk saling berbagi kebaikan, berbagi pengetahuan dan ilmu yang telah Allah karuniakan kepada orang lain karena itu merupakan salah satu cara untuk menjaga dan menambah ilmu. Sebagaimana sedekah harta yang bisa menjadi sebab datangnya rizki.
Dengan mengajarkan ilmu pada orang lain dapat membantu kita untuk menguatkan ingatan kita. Sekaligus motivasi bagi kita untuk mengaplikasikan ilmu yang telah kita pelajari dalam keidupan sehari-hari. Dengan demikian kita akan terpadu untuk menjadi teladan yang baik bagi orang lain.
“Sebaik-baik diantara kalian adalah yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.”(HR. Bukhari)
Kadangkala kita tersandung dengan kebimbangan hati ketika hendak mengajarkan suatu ilmu pada orang lain atau mengajak pada kebaikan. Secara personal atau dalam kelompok (masyarakat). Kebimbangan yang sering dihadapi adalah ketika mengingat tingkat keilmuan kita, pantas tidak kita mengajarkan ilmu atau harus memperdalam ilmu terlebih dahulu. Perhatikan saudaraku, bahwa Allah telah berfirman:
“dan ingatlah, ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu):”Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,”(QS. Ali Imran: 187)
Begitupula Rosulullah SAW menegaskan: “Ballighuu’anni walau ayatan..”, sampaikan sesuatu dariku walau satu ayat.” Karena itulah kenapa kita perlu mengajarkan ilmu yang telah kita peroleh pada orang lain serta mengajak orang lain pada kebaikan dan mencegah kemunkaran walaupun tingkat keilmuan kita belum sempurna, tapi kita yakin dan benar-benar memahami suatu ilmu dengan jelas dan itu berasal dari Rosulullah SAW.
Akan tetapi, ingatlah saudaraku, kita tak boleh berlebihan dalam segala hal sehingga melampaui batas. Begitu pula dalam menyampaikan ilmu, janganlah menyampaikan ilmu atau pengetahuan diluar batas kemampuan kita. Karena hal ini mendorong kita untuk mengatakan apa-apa yang tidak kita ketahui ilmunya. Dan menyebabkan orang lain mempunyai pemahaman yang keliru terhadap suatu hal karena kesalahan kita.
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya.”(QS. Al-Isra’:36)
Sering pula kita bimbang tatkala memikirkan konsekuensi setelah kita mengajak orang lain pada kebaikan atau mengajarkan suatu ilmu yang berarti kita juga harus mengaplikasikan apa yang kita ajarkan dan meninggalkan apa yang telah kita larang pada orang lain. Terlebih ketika kita mengingat bahwa Allah telah berfirman:
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”(QS. As-Shaf:3)
Padahal ayat tersebut di atas tidak melarang kita untuk menyampaikan ilmu atau mengajak orang lain pada kebaikan. Jika dimaknai demikian, maka tak ada yang patut mengajarkan ilmu, mangajak pada kebaikan dan melarang pada perbuatan buruk kecuali Nabi SAW. Karena tak ada manusia setelah beliau yang dibebaskan dari dosa oleh Allah SAW. Akan tetapi, alangkah baiknya jika kita orang yang pertama melakukan apa-apa yang telah kita sampaikan pada orang lain atau yang biasa kita sebut sebagai komitmen.
Jadi, melakukan apa-apa yang kita sampaikan bukan syarat mutlak kita mengajak orang lain. Begitupun sebaliknya, meninggalkan kemunkaran bukan syarat mutlak kita diperbolehkan mencegah orang lain untuk berbuat kemunkaran.
Sehingga, tidak dibenarkan bagi kita orang Islam untuk mengumpulkan dua keburukan, keburukan berupa dosa, dan keburukan karena meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar.